Karya: Nafisah Auliya Ramadhani (@nanapsh._)
Suatu hari aku sedang belajar untuk mempersiapkan tes UTBK. Aku belajar dengan giat agar bisa masuk universitas impianku. Setiap hari, pagi maupun malam, aku belajar dan mencoba memahami soal-soal yang belum aku mengerti. Kadang aku belajar bersama teman seperjuangan yang juga akan mengikuti UTBK. Kami saling bertanya dan membantu satu sama lain. Setiap minggu aku juga mencoba tryout dan melakukan evaluasi.
Sampai akhirnya hari UTBK tiba. Di dalam ruangan, aku merasa tegang dan takut. Aku takut tidak bisa menjawab soal dengan baik, takut skor yang aku dapatkan tidak cukup untuk universitas yang aku tuju, dan takut semua usaha belajarku selama ini sia-sia. Tapi aku mencoba mengerjakannya dengan tenang dan fokus.
Singkat cerita, UTBK pun selesai. Aku mencoba menikmati hari-hari setelahnya sambil menunggu hasil. Walaupun begitu, aku tetap kepikiran dengan hasilnya dan berharap usaha yang sudah aku lakukan akan membuahkan hasil.
Sebulan berlalu, hari pengumuman UTBK akhirnya tiba. Aku berdoa dan mencoba memberanikan diri untuk membuka hasilnya. Namun, hasil yang aku dapatkan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Aku tidak lolos.
Aku merasa sangat sedih dan kecewa. Apalagi ketika melihat teman-temanku berhasil lolos dan mulai mempersiapkan kehidupan kuliah mereka. Aku melihat mereka membuat video ospek, memakai almamater universitas impian mereka, dan bertemu teman-teman baru. Sementara aku hanya bisa melihat dari jauh.
Karena terlalu kecewa, aku lebih sering berada di rumah dan menjauh dari orang lain. Sampai suatu hari, saudara mengajakku untuk bermain dan berbicara. Kami membicarakan hal-hal ringan seperti biasanya. Tapi di tengah obrolan, dia mengatakan sesuatu yang tidak aku sangka.
“Aku tahu kamu sedih dan terpuruk karena tidak bisa kuliah tahun ini seperti teman-temanmu yang lain. Tapi aku yakin tahun selanjutnya kamu akan lolos di universitas yang kamu tuju dan kamu impikan dari dulu. Aku nggak akan bilang sabar, karena aku mengerti rasanya ditolak oleh PTN yang kita pilih. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan jalan yang terbaik untukmu nantinya. Jadi semangat ya, jangan menyerah begitu saja. Kamu nggak sendirian, banyak yang mendukungmu.” Aku terdiam dan merasa sangat tersentuh. Ternyata, di saat aku merasa sendirian dan tertinggal, masih ada seseorang yang percaya bahwa aku bisa bangkit.
Sejak saat itu, aku mencoba untuk kembali menjalani hari-hariku. Aku mulai belajar lagi, mencoba hal-hal baru, dan memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Dari pengalaman itu aku belajar bahwa menerima kegagalan memang tidak mudah. Terkadang kita hanya membutuhkan seseorang yang mau hadir dan mengingatkan bahwa kita tidak sendirian. Dan ternyata, satu kalimat sederhana dari seseorang yang peduli bisa menjadi alasan bagi kita untuk kembali bangkit.
