Jantungnya berdesir kencang, mulutnya komat-kamit memanjatkan doa peruntungan. Matanya terpejam takut menelan kenyataan pahit. Dikumpulkan segenap keberanian, untuk membuka pengumuman penentu arah perjalanan. Kemudian, terpampang dua kalimat pemantik kekecewaan, "Mohon maaf anda dinyatakan TIDAK LULUS.." diikuti penenang hampa menampar realita, "JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT" Seketika mendung menyelimutinya. Hatinya murung, kegagalan datang untuk kesekian kalinya.
Saat menerima kegagalan, khususnya ketika kuantitas gagal terasa tak imbang dengan banyaknya usaha yang diupayakan. Tak jarang seseorang akan mempertanyakan alasan dibalik kegagalan. Pikiran diserang dengan seribu semrawut pertanyaan. Bertanya soal kelayakan diri, "Aku kurang apa ya? Apa aku ngga pantes buat dapetin itu ya? Kayaknya aku salah memilih jalan.. Mungkin yang aku mau ngga seharusnya buat aku." Lalu, di susul dengan pertanyaan takdir di luar kendali, "Kenapa aku harus gagal lagi? Kenapa aku ditakdirkan untuk mampir di kekecewaan yang serupa? Terus, seberapa banyak porsi gagal yang harus ku telan sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan?" Penyesalan karena gagal terasa bersemayam lebih lama, dibanding kesadaran akan keberhasilan telah mencoba.
Secara klise, memang tak ada yang menarik dari kegagalan. Kecewa, sedih, malu atau malah berlarut-larut menyalahkan diri sendiri menjadi efek dari ekspetasi yang tak sejalan dengan realita. Tapi, apakah salah kalau serangkaian emosi itu akhirnya berhasil menyelimuti kita? Jawabannya tidak, it's human being. Manusia memiliki hak penuh untuk mengekspresikan perasaan. Termasuk perasaan yang muncul karena kegagalan. Tapi terkadang, apa yang sedang kita rasakan mudah terinterupsi oleh ucapan orang. "Jangan berlama-lama duduk dengan kesedihan" menjadi kalimat yang terkesan tergesa-gesa. Bukankah seseorang memiliki ritme yang berbeda-beda dalam proses sembuhnya? Sebab ikhlas menerima kegagalan tak datang begitu saja. Ruang dan jeda seringkali dibutuhkan sebagai wadah perenungan.
Merenung, merefleksikan diri bukan hanya sebatas mematung atau berkaca pada benda mati. Tapi meninjau kembali serentetan proses yang sudah berhasil dilalui. Bukan proses menuju keberhasilan, apalagi proses menuju kegagalan. Melainkan proses saat kita berusaha mengerahkan segala kemampuan kita, mengupayakan kekonsistenan, dan terus mencoba mengambil kesempatan. Alih-alih berfokus pada hasil, yang mana wilayah tersebut hanya bisa dijamah oleh pencipta. Fokuslah pada wilayah yang masih berada di radar kita, yakni proses untuk bertumbuh. Saya rasa, 'Bertumbuh' menjadi istilah yang lebih menarik dari kata 'Gagal'. Bahkan lebih dari sekedar istilah, bertumbuh mengandung sarat makna yang sangat dalam. Merry Riana pernah berkata, "Pertumbuhan tidak terjadi dalam zona nyaman"
Fenomena tersebut mengingatkan saya pada momen-moment tak menyenangkan, termasuk kegagalan. Mungkin untuk beberapa orang, kegagalan itu dilabelkan pada sesuatu yang besar. Pada pencapaian yang bisa dilihat bentuk dari hasilnya. Tetapi bagi saya, kegagalan itu bisa dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya, menyia-nyiakan kesempatan, menunda percobaan, atau terlalu takut keluar dari zona nyaman. Tidak memiliki cukup nyali untuk gagal adalah representasi dari mental pengecut yang memilih 'layu' sebelum 'mekar'.
Menurut saya, kegagalan yang muncul dengan hasil yang jelas lebih 'memuaskan' daripada keheningan yang menggantung sebuah ketidakpastian. Sebab inilah yang menjadi bagian menarik dari kegagalan yang pernah saya alami. Terkadang memang tak bersifat eksplisit. Bukan dengan pengumuman terpampang seperti yang tertulis di alinea pertama. Melainkan, ruang tunggu yang seolah-olah dibiarkan untuk terus menunggu. Kalau gagal yang diumumkan, setidaknya saya tahu kalau usaha saya sudah dipertimbangkan. Tapi kalau hasil itu tak pernah diumumkan, bagaimana saya tahu apakah saya sudah gagal atau perlu bersabar lagi untuk menunggu sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan atau sebaliknya?
Email yang tidak berbalas dan panggilan yang tak berkelanjutan mengantarkan saya pada suatu kesadaran bahwa, teruslah berupaya sampai kita bertemu dengan hasil terbaik dalam kaca mata Sang Pencipta. Percayalah kalau ketetapan yang sedang dijalani, adalah penjagaan dari marabahaya. Setiap digantung ketidakpastian atau bahkan mendapat kepastian yang kurang menyenangkan sekalipun, jangan berhentikan langkah begitu saja. Daripada menghitung kuantitas kegagalan, saya lebih senang menginterpretasikan pengalaman gagal menjadi sebuah pelajaran. Di mulai dari menghargai setiap proses yang berhasil dilalui, seperti berani untuk mengeksplorasi dan menjemput kesempatan adalah cara untuk merayakan kemenangan diri sendiri. Kemenangan dalam diam.
Sepenggal paradoks terlintas di otak saya, menurut saya semakin kita takut terhadap kegagalan maka semakin jauh pula kita terhadap kemenangan. Jadi tak apa kalau gagal. Tak apa kalau harus ditempa berkali-kali. Bahkan, tak apa kalau masih mengulang kesalahan yang sama. Tak perlu buru-buru untuk sembuh dan bangkit kembali. Duduklah bersanding dengan kegagalan. Sampai kita tak lagi melihat gagal sebagai ancaman, melainkan sebagai cara untuk mendekatkan kita kepada keberhasilan. Selagi keberanian untuk terus mencoba masih kita lakukan dan terus belajar dari kegagalan masih kita terapkan, tak ada yang tak mungkin. Bisa jadi ini perkara waktu dan kegigihan.