Sekarang aku berpikir apa mungkin semua ini terjadi karena aku belum benar-benar ikhlas terhadap segala rasa sakit yang ada sebelumnya. Tepat lima tahun yang lalu aku memulai jenjang sekolah atasku dengan membawa harapan bahwa kali ini aku akan mendapatkan sekolah yang aku impikan dengan bekal prestasi yang sudah kuusahakan saat sekolah menengah pertama. Namun ternyata masa itulah dimana aku mengenal bagaimana kalimat "Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan akhirnya" bekerja. Tidak mudah bagiku untuk bangkit dalam situasi tersebut, aku berulang kali menyalahkan diriku, berulang kali menghardik diriku, dan untuk pertama kali aku membenci diriku. Tetapi, aku sadar bahwa waktuku terus berjalan dan aku semakin sadar bahwa satu-satunya hal yang dapat aku lakukan hanya berusaha yang terbaik di masa sekolah menengah atas ini. Aku mencoba untuk keluar dari zona nyamanku, aku mencoba untuk mengikuti berbagai kegiatan mulai dari organisasi hingga olimpiade. Selama tiga tahun bersekolah aku semakin percaya bahwa kali ini usahaku tidak akan mengkhianati hasil dan aku menjadi yakin bahwa pasti kali ini impianku akan terwujud.
Aku menyusun impian dan tujuan hidupku selama masa sekolah menengah atas dan aku tahu aku ingin mengabdikan diriku untuk kemanusiaan. Sejak awal masuk ke sekolah ini impianku berada di jurusan Psikologi dan masa itu aku berpikir bahwa terlalu egois untuk memilih Universitas Indonesia sebagai tujuanku di awal. Aku tahu bahwa aku bukan tidak yakin dengan kemampuanku, melainkan aku hanya takut jika impianku ini hanya jadi angan-angan saja. Aku takut terhadap rasa sakit penolakan tersebut. Aku mencoba untuk lebih realistis dengan pilihanku masa itu. Walaupun begitu sekali lagi penolakan datang kepadaku lewat jalur prestasi atau raport ini. Tetapi rasa sakitnya tidak seberat itu karena aku tahu aku masih bisa bergantung pada jalur tes tertulis nasional. Aku berusaha lebih giat lagi untuk belajar karena aku merasa bahwa jalur itu merupakan satu-satunya pilihanku untuk menggapai impian ini. Aku ingat betul hari pengumuman itu, aku memilih untuk mencari udara segar daripada berdiam diri di kamar sambil menunggu jarum jam menyentuh pas angka tiga. Aku membuka pengumuman tersebut dengan tangan berkeringat dan untuk sekali lagi aku gagal.
Aku ingat rasa sakitnya, aku ingat kecewanya diriku, dan aku ingat betapa keras tangisanku saat itu. Impian yang sudah disusun selama tiga tahun harus hancur dalam beberapa detik dan dalam berapa detik tersebut aku merasa bahwa aku tidak punya masa depan yang dapat aku perjuangkan lagi. Aku diharuskan untuk masuk ke dalam jurusan bahkan universitas yang tidak pernah ada di daftarku sejak awal dan aku semakin tidak mengetahui langkah kakiku akan bergerak kemana. Aku mulai berpikir "apa ini alasan bahwa tes tertulis dapat dilakukan tiga kali setelah lulus". Aku mulai menyusun disela sela kuliahku untuk belajar tes tertulis lebih baik lagi dan untuk sekali lagi aku ingin berusaha untuk menggapai impianku. Di tahap tersebut sebenarnya orang tuaku sudah memohon kepadaku untuk tidak terlalu keras terhadap diriku, tetapi aku rasa kalo hidup ini tidak diperjuangkan olehku lalu dengan siapa lagi diriku akan bergantung?
Aku turunkan ekspektasiku terhadap diriku sendiri selama masa tersebut. Prinsipku masa itu adalah aku tidak mau hidup dalam penyesalan untuk tidak mencoba hal yang sudah kuimpikan. Masa itu dengan nekat aku memilih universitas nomor satu di Indonesia dengan persentase kelulusan di bawah 5 persen tersebut di jurusan ini. Aku juga ingat betul mendekati tanggal pengumuman aku diserang demam dan aku membuka pengumuman dengan lebih sedikit harapan. Jantungku berdegup begitu kencang, perlahan aku lihat layar ponselku dan aku menemukan barcode. Aku melihat "Universitas Indonesia". Aku hampir berpikir ini mimpi, aku mencubit diriku. Sakit. Berarti ini nyata. Aku berteriak dan memberitahu ayahku dengan tangan lebih gemetar dan menangis. Aku tahu ini baru permulaan dari perjalanan hidupku yang baru dan aku sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengejar impianku. Satu hal yang akan aku ingat sampai akhir hidupku bahwa Tuhan sejatinya tidak pernah tidur.
"Jika memang ini benar untukku, maka dekatkanlah kepadaku. Jika memang ini bukan untukku, bolehkah kumohon dulu?"
(Tanda-Yura Yunita)